Pleki,
seekor anjing kampung yang suka mangkal
di depan pager rumah saya. Udah di anggep anak sendiri sama mamake., yang namain Pleki ya mama saya itu (nama pasaran
menurut saya). Setiap hari di beri makan nasi sama mamake dan setiap hari pula
saya lempar pake batu. Sampe suatu hari mendadak dia hilang dari hadapan kita semua. Menurut
analisis mama saya, “Pasti ada orang Batak yang jadiin Pleki rica-rica! PASTI!!”
Apapun yang
terjadi dengan Pleki, saya di sini tersenyum puas melihat anjing kampung itu
pergi dari mata saya.
Memang saya
sangat parno begitu liat anjing muncul di depan mata saya. Yang paling parah
terjadi waktu saya TK.
Di masa itu,
bukannya langsung pulang kerumah seusai
sekolah, saya sering banget pergi bareng
Apris, temen seperjuangan waktu TK, sekedar jalan-jalan ato mampir ke pasar
loak hanya untuk dengerin penjual obat tradisional promosiin obatnya di
pinggiran pasar.
Lucu banget
dengerin abang yang jual obat teriak-teriak sampe bibirnya ambeien.
“Bapak-bapak! Bau badan bukan lagi masalah! Gunakanlah, minyak wangi cap
‘mayat’ Wangi dan sangat tahan lama! Buat ibu-ibu yang menderita keputihan!
Sekarang ada solusinya! Pakailah obat merah cap ‘Lak’! Tidak ada lagi
keputihan, yang ada kemerahan!!”
Yang seperti
ini, bikin saya dan Apris dulu terobsesi setelah besar bakal jadi penjual kayak
gini. Cuma teriak doang, uang pun ngalir. Kedengarannya cihuy, tapi setelah
besar seperti sekarang, nggak ada di antara kita yang mau jadi seperti itu.
Takut di garuk satpol PP.
Saya dan
Apris adalah sahabat yang tak terpisahkan, tak tergantikan satu dengan yang
lain. senasib sepenanggungan. Saya sakit, dia pun ikut sakit. Giliran dia yang
sakit, itu gara-gara saya nyekokin dia salep panu pas dia lagi flu.
Kita punya
selera yang hampir sama: sama-sama suka nyanyi, sama-sama suka nggambar,
sama-sama suka Dragon Ball, sama-sama suka pipis di pohon. Semuanya hampir
sama. Termasuk ketakutan kita pun sama: takut anjing
Sampe
sekarang, saya paling males bila harus berurusan sama anjing. Saya denger dari
beberapa orang, “kalo di kejar anjing, langsung jongkok aja. Anjing nggak bakal
ngejer lagi.”
Saya
ingetin, jangan pernah percaya kata-kata begini. Pembantu saya dulu pernah di
kejer anjing, terus dengan serta-merta dia jongkok. Toh akhirnya dia digigit
juga.
Lebih baik
ikutin saran saya. Saya pernah dikejar anjing sewaktu SD, yang saya lakuin
waktu itu adalah: lari aja sekencang-kencangnya sambil teriak “tolong-tolong”
sekeras mugnkin. Jangan pernah teriak “maling”, karena mungkin malah kamu yang
dikira maling dan akhirnya malah di seret telanjang keliling kampung kayak
maling ayam di kampung saya.
Dengan
teriakan yang mantab dan penuh penjiwaan, terbukti saya selamat, dan anjing
yang ngejer saya: lari terbirit-birit setelah seorang ibu dengan gagahnya
menyebetkan sapu samurainya.
Hanya satu
yang nggak bisa kalian hindari: jangan malu meski harus pipis di celana saking
takutnya.
Itu wajar.